Benarkah Jakarta Akan Tenggelam ???

Akhir-akhir ini kita dihebohkan oleh pemberitaan yang menyebutkan bahwa Jakarta akan tenggelam pada tahun 2030. Bahkan isu berlanjut pada opini mengenai pemindahan Ibu Kota Negara ke Kalimantan. Berbagai ahli dan narasumber  didatangkan dari mana-mana demi membahas masalah yang sedang hangat tersebut. Berbagai data dan fakta diajukan, berbagai opini dilontarkan, dan yang pasti semua itu membuat kita terutama yang tinggal di Jakarta akan kebingungan dan kelimpungan. :(

Sebenarnya saya juga sudah pernah mendengar isu itu jauh sebelum menjadi booming seperti sekarang ini. Ada ayah dari seorang teman saya yang memiliki sedikit ‘kemampuan khusus‘, pernah mengingatkan, “Kalau kerja di Jakarta jangan lama-lama, Le. Soale Jakarta suk mben arep keleleb (soalnya Jakarta besok akan tenggelam).”  8O

Pada waktu itu saya tidak ambil pusing karena saya masih tinggal di Metro, Lampung. Namun, sekarang ini saya bekerja di Jakarta, nah baru mulai ketar-ketir deh. Selain itu banyak sekali kejadian yang membuat saya mulai khawatir akan kebenaran isu tersebut. Dari mulai kemacetan yang parah, banjir tahunan, rob yang menyerang pesisir utara Jakarta, sampai amblesnya jalan RE. Martadinata di sekitaran Tanjung Priok. Semua kejadian itu seolah menjadi pertanda bahwa Ibu Kota RI ini memang sudah tidak ramah lagi untuk ditinggali. :cry:

Banjir Jakarta
Banjir Jakarta

Tidak ada asap kalau tidak ada api, itulah perumpamaan yang tepat untuk kondisi Jakarta saat ini. Kejadian-kejadian akhir-akhir ini merupakan akumulasi dari kesalahan yang sudah kita perbuat dari zaman kakek nenek kita dulu. Semua itu datangnya tidak tiba-tiba, perlahan namun pasti hanya kita saja yang tidak menyadarinya. Beberapa hal yang turut menyumbang terjadinya bencana di Jakarta, antara lain :

1.  Sistem tata kota yang tidak baik, terutama untuk masalah drainase

Drainase di Jakarta sudah tidak mampu lagi menyokong kehidupan di atasnya. Selokan-selokan yang ada di Jakarta sudah penuh dengan sampah dan sudah tidak jelas lagi arah alirannya, sehingga terkadang akhirnya tumpah ke jalan-jalan ketika musim hujan tiba. Untuk sistem drainase ini seharusnya dipikirkan sejak dulu, ketika memutuskan bahwa Jakarta akan menjadi Ibu Kota Negara, sehingga tidak menjadi masalah seperti sekarang ini.

Selain itu kesadaran yang masih minim dari masyarakat untuk tidak membuang sampah ke selokan atau sungai, serta bertempat tinggal di bantaran sungai karena hal ini akan menghambat lajunya air yang mengalir di sepanjang sungai. :(

2.  Ruang terbuka hijau yang minim dan kurangnya daerah resapan air

Sepertinya pemerintah terutama Pemda Jakarta lebih memilih meraup pundi-pundi rupiah ketimbang memikirkan kelangsungan hidup kota Jakarta. Hal ini dapat dilihat dari makin banyaknya gedung-gedung bertingkat yang semakin mempersempit ruang terbuka hijau dan daerah resapan air. Gedung-gedung tersebut tentu lebih menggiurkan karena akan menghasilkan rupiah yang luar biasa dari pajak dan perizinannya dibandingkan membangun taman / hutan kota yang “hanya” menghasilkan Oksigen dan berfungsi sebagai daerah resapan air. :twisted:

Jakarta yang seolah memiliki magnet begitu kuat membuat para penduduk dari daerah berbondong-bondong menuju Jakarta tanpa kejelasan nasib. Orang-orang ini akhirnya tinggal secara apa adanya di daerah-daerah yang terlihat masih kosong, meskipun lahan tersebut  bukan untuk hunian. Inilah yang membuat Jakarta semakin sesak dan padat.

3.  Pengeboran air tanah secara besar-besaran

Pengambilan air tanah secara besar-besaran berakibat pada berkurangnya kekuatan lempeng bumi dalam menopang lapisan yang ada di atasnya. Jangan heran kalau suatu saat Jakarta ambles ditelan bumi, karena sudah tidak ada lagi yang menopang di bawahnya. Untuk masalah air tanah ini juga terkait dengan ketersediaan air bersih di Jakarta yang sudah semakin langka. Air dari PDAM kualitasnya tidak bagus, sehingga banyak masyarakat yang lebih memilih menggunakan sumur bor. Selain itu para developer, juga menggunakan air tanah ini untuk memenuhi kebutuhan air bersih para pelanggannya. Bisa dibayangkan berapa banyak air tanah yang diambil untuk memenuhi kebutuhan penghuni apartemen-apartemen yang megah di Jakarta itu?  :roll:

4.  Pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan

Wajah Jakarta memang sudah berubah, sudah tidak seperti dulu lagi. Pembangunan di Jakarta sangat pesat, mungkin karena statusnya sebagai Ibu Kota yang dengan dengan pusat pemerintahan sehingga segala kebijakan bisa langsung dilaksanakan. Yang disayangkan adalah kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan seringkali tidak beroientasi kepada lingkungan melainkan lebih kepada profit semata. Akibatnya adalah segala infrastruktur dapat dipenuhi namun semua itu tidak berwawasan lingkungan, sehingga akhirnya malah membahayakan kelangsungan kota itu sendiri.

5.  Polusi yang luar biasa dari kendaraan bermotor

Jika kita pergi ke Jakarta jangan heran jika mulai memasuki daerah perbatasan saja sudah disambut dengan kemacetan. Ditambah lagi dengan asap yang mengepul dari Metro Mini atau Kopaja yang sering mengambil jalan seenaknya sendiri. :x Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang beraktivitas atau tinggal di Jakarta tingkat stressnya lebih tinggi, serta rentan terhadap penyakit. Hal ini dapat dimaklumi karena begitu banyak zat-zat toxic yang berterbangan di udara Jakarta. Mulai dari asap kendaraan, uap dari zat-zat berbahaya di sungai, sampai asap rokok dari orang-orang yang tidak peduli ketika ada di fasilitas umum. :x   Jika Anda melihat langit Jakarta pada waktu pagi hari, maka akan tampak langit yang keruh, lebih seperti mendung, itu adalah partikel-partikel polutant yang bergelayut di angkasa.

Mungkin itulah sebagian kecil dari penyebab bencana-bencana yang terjadi di Jakarta akhir-akhir ini. Saya menulis ini bukan untuk menjatuhkan pihak-pihak tertentu, melainkan hanyalah tulisan dari seorang anak bangsa yang merindukan Jakarta yang nyaman untuk ditinggali. Saya rindu Jakarta yang rapi, bebas macet, bebas banjir, bersih, bebas polusi, bebas sampah, aman, dan nyaman. Ini bukan saja merupakan PR bagi pemerintah, melainkan PR bagi kita semua. Marilah kita jaga lingkungan kita, mulailah dari lingkungan yang terkecil, yaitu keluarga. Jika masing-masing dari kita sudah peduli terhadap lingkungan, maka cepat atau lambat kita pun akan memetik hasilnya. Kita menyayangi alam, maka alam pun akan menyayangi kita pula. ;)

Sebagai penutup, dibawah ini saya berikan foto-foto wajah Jakarta dulu dan sekarang, lihat sendiri perbedaannya. :mrgreen:

Pancoran Tempo Doeleoe
Pancoran Masa Kini
Salemba Tempo Doeloe
Salemba Masa Kini
Advertisements

WAJIB TAHU !!!!

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Rumah roboh akibat Bencana alam di Klaten

Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka[1]. Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: “bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan”. Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni. Konsekuensinya, pemakaian istilah “alam” juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. Besarnya potensi kerugian juga tergantung pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, yang mengancam bangunan individual, sampai peristiwa tubrukan meteor besar yang berpotensi mengakhiri peradaban umat manusia.

Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard) serta memiliki kerentanan/kerawanan (vulnerability) yang juga tinggi tidak akan memberi dampak yang hebat/luas jika manusia yang berada disana memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster resilience). Konsep ketahanan bencana merupakan valuasi kemampuan sistem dan infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah & menangani tantangan-tantangan serius yang hadir. Dengan demikian meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah penduduk yang besar jika diimbangi dengan ketetahanan terhadap bencana yang cukup.

Hijaukan Bumi Kita Untuk Generasi Masa Depan

Ayoooooo kawaann 🙂

sudah saatnya kita peduli dengan bumi kita,, siapa lagii ??????????????

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.